CERITA KEHIDUPAN

Kamis, 24 September 2020

SUNAN AMPEL

 


    Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Sunan Ampel lahir 1401 di Campa. Campa adalah nama suatu wilayah kecil yang terletak di Vietnam, sementara Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jejumpa.

    Sunan Ampel adalah putra Syekh Ibrahim As-samarqandy yang dimakamkan di Tuban. Syekh Ibrahhim Asmarakandi merupakan putrah dari Syekh Jumadil Kubro. Walau demikian, terdapat pula sebagian riwayat yang menyatakan bahwa Sunan Ampel merupakan anak dari Syekh Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati).

    Dalam catatan Kronik Tiangkok dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam yang menagnut mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Tionghoa di Champa oleh Sam Po Bo. Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Tionghoa di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Tionghoa di Jiaotung (Bangil). Namun, catatan Kronik Tiongkok dari Klenteng Sam Po Kong ini diragukan kebenarannya karena merupakan propaganda Belanda untuk mengaburkan sejarah Indonesia. Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakan keponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.

Raden Rahmat dan Raden Santri adalah anak Makhdum Ibrahim (putra Haji Bong Tak Keng), keturunan suku Hui dari Yunnan yang merupakan percampuran bangsa Han/Tionghoa dengan bangsa Arab dan Asia Tengah (Samarkand/Asmarakandi). Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh/Abu Hurairah (cucu raja Champa) pergi ke Majapahit mengunjungi bibi mereka bernama Dwarawati puteri raja Champa yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Raja Champa saat itu merupakan seorang muallaf. Raden Rahmat, Raden Santri dan Raden Burereh akhirnya tidak kembali ke negerinya karena Kerajaan Champa dihancurkan oleh Kerajaan Vietnam

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin (= Hikayat Banjar resensi I), nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, anak Sultan Pasai. Dia datang ke Majapahit menyusul/menengok kakaknya yang diambil istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit saat itu bernama Adipati Hangrok dengan mangkubuminya Patih Maundara (kelak Brawijaya VII) . Dipati Hangrok (alias Girindrawardhana alias Brawijaya VI) telah memerintahkan menterinya Gagak Baning melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu ke Pasai. Sebagai kerajaan Islam, mulanya Sultan Pasai keberatan jika Putrinya dijadikan istri Raja Majapahit, tetapi karena takut binasa kerajaannya akhirnya Putri tersebut diberikan juga. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki. Karena rasa sayangnya Putri Pasai melarang Raja Bungsu pulang ke Pasai. Sebagai ipar Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta tanah untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading. Anak laki-laki dari Putri Pasai dengan raja Majapahit tersebut kemudian dinikahkan dengan puteri raja Bali. Putra dari Putri Pasai tersebut wafat ketika istrinya Putri dari raja Bali mengandung tiga bulan. Karena dianggap akan membawa celaka bagi negeri tersebut, maka ketika lahir bayi ini (cucu Putri Pasai dan Brawijaya VI) dihanyutkan ke laut, tetapi kemudian dapat dipungut dan dipelihara oleh Nyai Suta-Pinatih, kelak disebut Pangeran Giri. Kelak ketika terjadi huru-hara di ibu kota Majapahit, Putri Pasai pergi ke tempat adiknya Raja Bungsu di Ampelgading. Penduduk desa-desa sekitar memohon untuk dapat masuk Islam kepada Raja Bungsu, tetapi Raja Bungsu sendiri merasa perlu meminta izin terlebih dahulu kepada Raja Majapahit tentang proses islamisasi tersebut. Akhirnya Raja Majapahit berkenan memperbolehkan penduduk untuk beralih kepada agama Islam. Petinggi daerah Jipang menurut aturan dari Raja Majapahit secara rutin menyerahkan hasil bumi kepada Raja Bungsu. Petinggi Jipang dan keluarga masuk Islam. Raja Bungsu beristrikan puteri dari petinggi daerah Jipang tersebut, kemudian memperoleh dua orang anak, yang tertua seorang perempuan diambil sebagai istri oleh Sunan Kudus (tepatnya Sunan Kudus senior/Undung/Ngudung), sedang yang laki-laki digelari sebagai Pangeran Bonang. Raja Bungsu sendiri disebut sebagai Pangeran Makhdum

  • Silsilah Sunan Ampel
    • Sunan Ampel / Raden Rahmat / Sayyid Ali Rahmatullah bin
    • Syekh Maulana Malik Ibrahim / Syekh Ibrahim As-Samarqandy bin
    • Syekh Jumadhil Qubro / Jamaluddin Akbar al-Husaini bin
    • Ahmad Jalaluddin Syah bin
    • Abdullah Khan bin
    • Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
    • Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
    • Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut) bin
    • Ali Kholi' Qosam bin
    • Alawi Ats-Tsani bin
    • Muhammad Sohibus Saumi'ah bin
    • Alawi Awwal bin
    • Ubaidullah bin
    • Ahmad al-Muhajir bin
    • Isa Ar-Rumi bin
    • Muhammad An-Naqib bin
    • Ali Uraidhi bin
    • Ja'far as-sadhiq bin
    • Muhammad al-Baqir bin
    • Ali Zainal Abidin bin
    • Husain bin
    • Ali bin Abi Tholib dan Fatimah Az-zahra binti Muhammad.
Jadi, Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Bermakna mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi.
  • Falsafah Dakwah
            Moh Limo atau Molimo, Moh (tidak mau), limo (lima), adalah falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat pada zaman itu yaitu:
    • Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya.
    • Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya.
    • Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya.
    • Moh Madat: tidak mau memakai narkoba dan sejenisnya.
    • Moh Maling: tidak mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.
            Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Masjid Agung Demak. Dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan perjuangan dakwah dia di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah.Sehingga Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir tercatat menjadi Imam Masjid Agung tersebut yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro).


Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.



Share this:

1 komentar :

 
Copyright © 2014 cerita kehidupan. Designed by OddThemes