CERITA KEHIDUPAN
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 April 2021

SEJARAH KERAJAAN KALINGGA

                                                                               


Sejarah peninggalan pada masa Hindu-Budha baik berupa candi maupun prasasti banyak yang menjadi objek wisata di beberapa tempat yang tersebar di Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari pernah berdirinya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di wilayah Nusantara, salah satunya adalah Kerajaan Kalingga.

Kerajaan Kalingga adalah salah satu kerajaan bercorak Hindu-Budha yang pernah berkembang di Nusantara sekitar abad ke 6 masehi hingga abad ke 7 masehi. Kerajaan ini diperkirakan terletak di bagian utara Jawa Tengah, yang mencakup mulai dari Pekalongan hingga ke Jepara.

Bahasa yang digunakan di Kalingga terdiri atas, sanskerta, Jawa Kuno (kawi) dan melayu kuno. Agama yang dianut masyarakat, yaitu Hindu dan Budha. Ragam bahasa dan agama yang terus berkembang dan berdampingan selanjutnya dalam Kerajaan Mataram Kuno.

Penguasa Kalingga yang menonjol dan berhasil membawa kerajaan tersebut pada masa kejayaannya adalah Ratu Shima yang naik tahta menggantikan suaminya, Raja Kartikeyasingha. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin yang tegas dan tanpa kompromi dalam penegakan hukum, yang dibuktikan dengan menjatuhkan hukuman kepada anaknya yang tanpa sengaja menyentuh benda bukan miliknya.

Pada masa pemerintahannya kebijakan luar negeri Kerajaan Kalingga dengan menjalin kerjasama dengan Kerajaan galuh dan Kerajaan Sunda. Sedangkan kebijakan dalam negeri, kerajaan memperhatikan pembangunan di bidang pertanian dan perdagangan.

Khusus di bidang pertanian didukung oleh jaringan irigasi sehingga bisa meningkatkan hasil panen. Dari sisi perdagangan, Kerajaan Kalingga membangun pelabuhan yang mudah diakses oleh pedagang dari dalam dan luar negeri. Bahkan dari catatan Dinasti Tang, mengisyaratkan telah terjalin hubungan dagang antara Kerajaan kalingga dengan Tiongkok. Komoditi yang ditawarkan oleh Kerajaan Kalingga adalah kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah.

Kerajaan Kalingga mampu menciptakan kehidupan sosial yang teratur karena adanya penegakan hukum yang tegas, sehingga masyarakat dalam melakukan berbagai kegiatannya bisa lancar tanpa hambatan berarti. Dalam kondisi stabil itu pula kebudayaan Hindu dan Budha dapat sama-sama berkembang secara harmonis.

Sayangnya, akhir dari Kerajaan Kalingga belum bisa dipastikan penyebabnya. Ada yang berpendapat Kerajaan ini ditaklukan oleh Sriwijaya, tetapi kenyataan menunjukan bahwa setelah Kalingga muncul Kerajaan Mataram Kuno dengan kekuasaan serupa, sehingga besar kemungkinan Mataram Kuno merupakan kelanjutan dari kerajaan ini.


Rabu, 30 Desember 2020

KERAJAAN TARUMANEGARA

 


    Tarumanegara merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia (kedua setelah Kutai). Berikut adalah pembahasannya mulai dari pendiri, peninggalan, letak (lokasi), kehidupan sosial, politik, ekonomi, masa kejayaan hingga penyebab keruntuhannya berdasarkan sumber terpercaya dan pustaka referensi terlampir.

Pendiri Kerajaan TARUMANEGARA dan Letaknya

Purwadi (2014, hlm. 37) mengungkapkan bahwa berdasarkan naskah wangsakerta, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358. Dalam naskah itu, dikatakan pada abad ke-4 Masehi nusantara didatangi oleh sejumlah pengungsi dari India yang mencari perlindungan akibat terjadi peperangan besar di sana.

Umumnya pengungsi tersebut berasal dari daerah kerajaan Palawa dan Calankaya di India. Salah satu rombongan pengungsi tersebut dipimpin oleh seorang Maharesi yang bernama Jayasingawarman.

Ketika telah mendapatkan persetujuan dari raja Jawa Barat (Dewawarman VIII, raja Salakanagara) maka mereka membangun tempat pemukiman baru di dekat sungai Citarum. Pemukiman tersebut disebut Tarumadesya (desa Taruma).

Sepuluh tahun berjalan ternyata desa ini banyak didatangi oleh orang-orang, sehingga Tarumadesya menjadi besar. Pada akhirnya wilayah yang hanya setingkat desa tersebut berkembang menjadi kota (nagara).

Lambat laun kota tersebut semakin menunjukkan perkembangan yang pesat, sehingga Jayasingawarman membentuk kerajaan yang dinamakan Tarumanagara.

Kerajaan Tarumanegara terletak di Jawa Barat (tanah Sunda), di antara sungai Citarum dan Cisadane. Para ahli membuat perkiraan tersebut berdasarkan prasasti-prasasti peninggalan Tarumanegara yang ditemukan di sekitar sana.

Saptika (2011, hlm. 5) mengungkapkan bahwa kerajaan Tarumanegara atau kerajaan Taruma adalah suatu kerajaan yang pernah berdiri dan berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke 4 hingga abad ke 7 masehi.

Dari namanya, Tarumanegara diambil dari kata taruna yang diperkirakan berkaitan dengan kata tarung yang artinya nila. Kata tarung digunakan sebagai nama sungai di Jawa Barat, yaitu sungai Citarum. Kebanyakan para ahli memperkirakan pusat kerajaan Tarumanegara berada di dekat kota Bogor.

Peninggalan Kerajaan TARUMANEGARA

Kerajaan ini banyak meninggalkan berbagai peninggalan yang menjadi bukti bahwa kerajaan ini pernah berdiri. Peninggalan mencakup prasasti, topeng emas, dsb. Menariknya lagi, nama kerajaan ini semat disebutkan dalam peninggalan dokumen atau naskah bersejarah di negeri Cina .

Salah satu peninggalan kerajaan ini adalah tujuh prasasti tarumanegara. Prasasti ditemukan di tempat-tempat yang berbeda namun tidak terlalu jauh satu sama lain. Berikut adalah beberapa prasasti peninggalan kerajaan Tarumanegara.

  • Prasasti ciareteun

Pada prasasti ini ditemukan ukiran laba-laba dan telapak kaki serta sajak beraksara palawa dalam bahasa Sanskerta. Berdasarkan pembacaan oleh Poerbatjaraka dalam (Hardiati, 2010, hlm.50) prasasti ini berbunyi:

Ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Sang Purnavarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

  • Prasasti Jambu

Seperti namanya, prasasti ini ditemukan di kawasan perkebunan jambu, bukit Pasir Koleyangkak, Leuwiliang, Kabupaten Bogor atau 30 Km setelah bagian barat Bogor. Prasasti ini juga disebut Prasasti Koleangkak atau Pasir Jambu.

Isi dari tulisan yang dituliskan dalam prasasti pasir jambu adalah sebagai berikut. (Hardiati, 2010, hlm. 50)

Gagah, mengagumkan, dan jujur terhadap tugasnya adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termashur Sri Purnawarman, yang sekali waktu (memerintah) di Taruma dan baju zirahnya yang terkenal (warman). Tidak dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang tapak kakinya yang senantiasa berhasil menggempur kota-kota musuh, hormat kepada pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging bagi musuh-musuhnya.”

  • Prasasti Kebun Kopi

Prasasti kebun kopi ditemukan di kampung Muara Hilir, Cibungbulan, Bogor. Isinya tidak terlalu banyak, berikut adalah isi dari prasasti kebun kopi (Hardiati, 2010, hlm. 52):

Di sini nampak sepasang tapak kaki… yang seperti Airwata, gajah penguasa taruma (yang) agung dalam … dan (?) kejayaan.

Sumber lain mengungkapkan bahwa Isinya, dapat pula disimpulkan menjadi:

“telapak kaki seperti telapak kaki airawata. Airawata adalah gajah kendaraan dewa Indra. Inilah telapak kaki penguasa negara Taruma yang agung.”

Didalamnya juga diperkirakan dideskripsikan mengenai kejayaan kerajaan Taruma atau Tarumanegara/ Tarumanagara.

  • Prasasti Muara Cianten
Prasasti ini ditemukan di Muara Cianten, Bogor. Prasasti ini memiliki kemiripan dengan Prasasti Awi (memiliki gambar telapak kaki dan tulisan ikal). Namun, tulisan atau isinya belum dapat disimpulkan oleh para Ahli.
  • Prasasti Tugu

Prasasi ini ditemukan di Tugu, daerah Cilincing, DKI Jakarta dekat perbatasan dengan daerah Bekasi. Isinya menyebutkan :

“Dahulu sungai yang bernama candra bhaga telah (disuruh) gali oleh Maharaja Purnamarwan. Maharaja yang mulia mempunyai lengan yang kuat. Setelah sampai ke istana kerajaan yang termasyhur, sungai dialirkan ke laut.

Di dalam tahun ke-22 dari takhta yang mulia raja Purnawarman yang gemerlapan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji dari segala raja-raja.

Baginda memerintahkan pula, menggali sungai yang permai bersih jernih yang bernama gomati setelah sungai itu mengalir di tempat kediaman yang mulia Nenekda sang pendeta (sang Purnawarman).

Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik tanggal 8 paro petang bulan Phalguna dan selesai pada tanggal 13 paro terang bulan Caitra, hanya 21 hari saja sedang galian itu panjangnya 6122 tumbak. Upacara (selamatan) itu dilakukan oleh para Brahmana disertai 1000 ekor sapi yang dikorbankan.

Diduga, penggalian untuk membuat sungai tersebut dilakukan untuk mengendalikan banjir dan membantu usaha pertanian yang diperkirakan berada di wilayah Jakarta saat ini. Sungai tersebut adalah sungai Candrabaga.

  • Prasasti Lebak(Cidanghian)

Prasasti ditemukan di kampung Lebak, tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Muncul, kabupaten Pandeglang, Banten. Oleh karena itu, terkadang prasasti ini juga disebut prasasti Cidanghiang atau prasasti Munjul. Dalam prasasti ini disebutkan:

“inilah tanda keperwiraan yang mulia Purnawarman. Baginda seorang raja yang agung dan gagah berani. Baginda seorang raja dunia dan menjadi panji sekalian raja”.

Prasasti ini juga memuat batas-batas kerajaan Tarumanegara, yakni: sebelah barat berbatasan dengan laut, sebelah selatan juga berbatas dengan laut, sebelah timur dengan sungai Citarum dan sebelah utara dengan daerah Karawang.

  • Situs Pasir Angin

Situs ini terletak di Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulang berada pada bukit kecil di sebelah utara daerah aliran sungai Cianten yang mengalir dari selatan ke utara. Di bukit tersebut terdapat monolit setinggi 1,2 m.

Di sini, ditemukan berbagai artefak seperti: tembikar, porselin, kemarik dari bahan batuan, artefak kaca, artefak perunggu, besi, dan emas. Salah satu artefak tersebut adalah topeng emas.

Bidang Politik kerajaan Tarumanegara

Raja Purnawarman tampaknya adalah raja yang paling berpengaruh dan disegani baik oleh rakyat maupun musuhnya. Diperkirakan bahwa Purnawarman setidaknya telah berkuasa selama 22 tahun. Ia juga berhasil membawa Tarumanegara ke masa kejayaannya. Selain itu, Purnawarman juga telah berhasil menjalin hubungan diplomatic dengan Cina.

Bidang agama kerajaan Tarumanegara

Agama yang dianut raja Purnawarman dan rakyatnya adalah agama Hindu Siwa, dimana kaum Brahmana memegang peranan penting dalam upacara. Sedangkan gambar telapak kaki Dewa Wisnu merupakan simbol karena Dewa Wisnu pada umumnya dihormati sebagai dewa pelindung dunia.

Tarumanegara didiominasi oleh agama Hindu Siwa, di mana kaum Brahmana memegang peranan penting dalam upacara keagamaan. Gambar telapak yang berkali-kali muncul di atas prasastinya adalah salah satu konfirmasi utamanya.

Berdasarkan berita atau jurnal Fa-Hien, di To-lo-mo (Tarumanegara) terdapat tiga agama, yakni: Hindu, Budha, dan agama nenek moyang (animisme). Rajanya memeluk agama Hindu. Sementara adanya dua agama lain menunjukkan bahwa sikap toleransi beragama telah dijunjung tinggi di Tarumanegara.

Silsilah Kerajaan Tarumanegara

Jika diurutkan berdasarkan silsilah keluarga raja-raja yang pernah memegang tahta Tarumanegara, maka daftarnya adalah sebagai berikut.

  1. Jayasingawarman 358-382 M,
  2. Dharmayawarman (382-395 M)
  3. Purnawarman (395-434 M)
  4. Wisnuwarman (434-455)
  5. Indrawarman (455-515)
  6. Candrawarman (515-535)
  7. Suryawarman (535-561)
  8. Kertawarman (561-628)
  9. Sudhawarman (628-639)
  10. Hariwangsawarman (639-640)
  11. Nagajayawarman (640-666)
  12. Linggawarman (666-669)
  13. Tarusbawa (669-723 M)
Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara

Melalui sumber berita Cina dari dinasti Tang, disebutkan bahwa setelah tahun 669 M, To-lo-mo tidak pernah mengirimkan utusannya lagi kesana. Kemungkinan besar alasannya adalah karena Tarumanegara telah runtuh.

Ditemukan pula dalam prasasti Kota Kapur peninggalan Sriwijaya bahwa mereka telah menundukkan “bhumi jawa” yang sebelumnya tidak mau tunduk. Kala itu, di pulau Jawa tidak ada kerajaan lain selain Tarumanegara, maka kemungkinan besar yang di serang dan ditaklukan itu adalah Tarumanegara.

Selain itu, kenyataan juga menunjukkan bahwa sekitar akhir abad ke-7 M sejarah Jawa menjadi kabur, atau sulit untuk dicari. Baru pada tahun 732 M (abad ke-8) muncul prasasti dari raja Sanjaya yang dikenal prasasti Canggal (732 M) ditemukan di kaki gunung Wukir, Kedu Selatan, Jawa Tengah.

Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanegara, Jawa Barat berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Kemudian, lahirlah kerajaan Sunda di bawah pimpinan Tarusbawa. Sumber prasasti menyebutkan bahwa nama “Sunda” sebetulnya sudah disebutkan sebelumnya oleh Purnawarman (Sundapura, Ibu kota Tarumanegara).

Pada akhirnya, penyebab keruntuhan kerajaan ini belum dapat dipastikan dan hanya dapat mengacu pada dua sumber berbeda, yakni: 1. Kerajaan ini ditaklukkan oleh Sriwijaya, 2. Kerajaan ini mengalami integrasi lewat diplomasi (dinikahinya Putri Tarumanegara oleh pendiri Sriwijaya) dengan Sriwijaya dan berubah menjadi Kerajaan Sunda.

Senin, 28 Desember 2020

KERAJAAN KUTAI (KERAJAAN HINDU TERTUA DI INDONESIA)


   

  Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan muncul pada abad 5 M atau ± 400 M. bukti-bukti yang menujukkan bahwa kerajaan tersebut dibangun pada abad ke-4 adalah ditemukannya tujuh buah prasasti Yupa. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong), tepatnya di hulu sungai Mahakam. Tidak banyak informasi mengenai Kerajaan Kutai. Hanya 7 buah prasasti Yupa tersebut itulah sumbernya. Penggunaan nama Kerajaan Kutai sendiri ditentukan oleh para ahli sejarah dengan mengambil nama dari tempat ditemukannya prasasti Yupa tersebut yaitu di daerah Kutai.

    Ditemukannya tujuh buah batu tulis yang disebut Yupa yang mana ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sanskerta, dan disusun dalam bentuk syair. Sedangkan huruf yang dipakai adalah huruf Palawa. Prasasti Yupa tersebut merupakan prasasti tertua yang menyatakan telah berdirinya suatu Kerajaan Hindu tertua yaitu Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para Brahmana atas kedermawanan Raja Mulawarman. Dituliskan bahwa Raja Mulawarman, Raja yang baik dan kuat yang merupakan anak dari Aswawarman dan merupakan cucu dari Raja Kudungga, telah memberikan  20.000 ekor sapi kepada para Brahmana.

    Dari prasati tersebut didapat bawah Kerajaan Kutai pertama kali didirikan oleh Kudungga kemudian dilanjutkan oleh anaknya Aswawarman dan mencapai puncak kejayaan pada masa Mulawarman (Anak Aswawarman). Menurut para ahli sejarah nama Kudungga merupakan nama asli pribumi yang belum tepengaruh oleh kebudayaan Hindu. Namun anaknya, Aswawarman diduga telah memeluk agama Hindu atas dasar kata ‘warman’ pada namnya yang merupakan kata yang berasal dari bahasa Sanskerta. Pendiri Kerajaan Kutai adalah Kudungga, sedangkan raja pertama yang resmi berkuasa di Kerajaan Kutai adalah Aswawarman karena sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai dan diberi gelar “Wangsakarta”, yang artinya pembentuk keluarga.

Masa kejayaan kerajaan kutai

    Tidak banyak informasi mengenai Kerajaan Kutai yang temukan. Tetapi menurut prasasti Yupa, puncak kejayaan Kerajan Kutai berada pada masa kepemerintahan Raja Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman, kekuasaan Kerajaan Kutai hampir meliputi seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kerajaan Kutai pun hidup sejahtera dan makmur.

Raja-raja kerajaan Kutai

    Dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Kutai, terdapat salah satu prasasti yang didalamnya tetulis “Sang Maharaja Kundungga yang amat mulia mempunyai putra yang mashur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman (Dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci) tiga. Yang terkemuka dari ketiga putra itu adalah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri (selamatan) emas amat banyak. Buat peringatan kenduri itulah tugu batu ini didirikan oleh para Brahmana.”

    Dari prasasti tersebut dapat diketahui nama-nama raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai. Raja pertama bernama Kundungga yang merupakan nama Indonesia asli. Ia mempunyai seorang anak yang bernama Aswawarman yang dianggap sebagai pendiri dinasti atau pembentuk keluarga (Wamsakerta). Nama anak Kundungga di atas menunjukkan telah masuknya pengaruh Hindu dalam Kerajaan Kutai. Selanjutnya, dapat diketahui pula bahwa Aswawarman itu mempunyai 3 orang putra. Salah seorang di antara putranya itu sangat terkenal, bernama Mulawarman. Kedua nama terakhir menggunakan bahasa Sanskerta. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada masa kerajaan Kutai, mereka telah mengenal sistem pemerintahan. Pemerintahan bukan lagi dipimpin oleh kepala suku, tetapi dipimpin oleh Raja. Dalam prasasti tersebut juga membuktikan bahwa raja-raja Kutai adalah orang Indonesia asli yang telah memeluk agama Hindu.

Raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Kutai:

  1. Maharaja kundungga
  2. Maharaja Asmawarman
  3. Maharaja Mulawarman
  4. Maharaja Marawijaya warman
  5. Maharaja Gajayana Warman
  6. Maharaja Tungga warman
  7. Maharaja Jayanaga Warman
  8. Maharaja Nalasinga Warman
  9. Maharaja Nala Parama Tungga
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Cadrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa
  15. Maharaja Guna Parana Dewa
  16. Maharaja Wijaya Warman
  17. Maharaja Sri Aji Dewa
  18. Maharaja Mulia Putra
  19. Maharaja Nala Pandita
  20. Maharaja Indra Paruta Dewa
  21. Maharaja Dharma setia
Bidang Ekonomi
    Secara geografis Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai, disamping pertanian. Dan keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Diperkirakan bahwa pertanian dan peternakan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Kutai. Melihat letak di sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi laut, diperkirakan perdagangan masyarakat Kutai berjalan cukup ramai. Bagi pedagang luar yang ingin berjualan di Kutai, mereka harus memberikan “hadiah” kepada raja agar diizinkan berdagang.

    Pemberian “hadiah” ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal harganya dan pemberian ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada pihak Kerajaan. Melalui hubungan dagang tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai-laut maupan transportasi darat, berkembanglah hubungan agama dan kebudayaan dengan wilayah-wilayah sekitar. Banyak pendeta yang diundang datang ke Kutai. Banyak pula orang Kutai yang berkunjung ke daerah asal para pendeta tersebut.Bidang Agama    Kehidupan kebudayaan masyarakat Kutai erat kaitannya dengan kepercayaan atau agama yang dianut. Yupa merupakan salah satu hasil budaya masyarakat Kutai, yaitu tugu batu yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia dari zaman Megalitikum, yakni bentuk menhir. Salah satu yupa itu menyebutkan suatu tempat suci dengan nama Waprakeswara (tempat pemujaan Dewa Siwa). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat Kutai adalah pemeluk agama Hindu Syiwa. Selain itu, masyarakat Kutai juga ada yang masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka.Bidang Sosial-Budaya  Karena Kerajaan Kutai telah mendapat pengaruh agama Hindu, maka kehidupan agamanya telah lebih maju. Salah satu contohnya adalah pelaksanaan upacara penghinduan atau pemberkatan seseorang yang memeluk agama Hindu yang disebut Vratyastoma. Upacara tersebut dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman dan dipimpin oleh para pendeta atau brahmana dari India. Baru pada masa pemerintahan Mulawarman, upacara tersebut dipimpin oleh kaum brahmana dari Indonesia. Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa kaum brahmana dari Indonesia ternyata memiliki tingkat intelektual yang tinggi karena mampu menguasai bahasa Sanskerta. Karena, bahasa ini bukanlah bahasa yang dipakai sehari-hari oleh rakyat India melainkan bahasa resmi kaum brahmana untuk masalah keagamaan.       Masuknya pengaruh budaya India ke Nusantara, menyebabkan budaya Indonesia mengalami perubahan. Perubahan yang terpenting adalah timbulnya suatu sistem pemerintahan dengan raja sebagai kepalanya. Sebelum budaya India masuk, pemerintahan hanya dipimpin oleh seorang kepala suku. Selain itu, percampuran lainnya adalah kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia mendirikan tugu batu. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa dalam menerima unsur-unsur budaya asing, bangsa Indonesia bersikap aktif. Artinya bangsa Indonesia berusaha mencari dan menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan asing tersebut dengan kebudayaan sendiri.Keruntuhan Kerajaan Kutai    Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai Martadipura berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang ibukotanya pertama kali berada di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam yang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.


Sabtu, 19 September 2020

Apa yang terjadi setelah dinosaurus punah?



Di tempat pepohonan pernah menjulang tinggi, menaungi semak belukar dan paku-pakuan yang lebat, hanya batang-batang pohon hangus yang tersisa.

Alih-alih dengungan serangga yang tak putus-putus mengaburkan geraman dinosaurus raksasa, hanya ada kesunyian, yang sesekali dipecahkan suara angin. Kegelapan merajalela: warna biru, hijau, kuning, dan merah yang pernah menari-nari di bawah sinar matahari telah sirna.

Itulah kondisi Bumi setelah tabrakan asteroid selebar 9,6 kilometer, 66 juta tahun lalu.

“Dalam hitungan menit sampai jam, Bumi berubah dari tempat yang subur dan penuh kehidupan menjadi hening total dan kosong,” kata Daniel Durda, ilmuwan dari Southwest Research Institute di Colorado. “Terutama dalam radius ribuan kilometer di sekeliling lokasi benturan, semuanya tersapu bersih.”

Layaknya menyusun potongan gambar puzzle, saintis telah menguraikan dampak jangka panjang dari tubrukan meteor. Peristiwa itu memusnahkan lebih dari tiga perempat spesies hewan dan tumbuhan di bumi termasuk dinosaurus – meskipun sebagian dari mereka mampu bertahan dan berevolusi menjadi burung.

Namun melengkapi detail, terutama apa yang terjadi setelah benturan dan apa yang memungkinkan beberapa organisme bertahan hidup, ternyata lebih menantang dari yang diperkirakan.

Perkiraan bahwa dinosaurus musnah karena hantaman asteroid pertama kali diajukan pada tahun 1980. Ide tersebut dianggap kontroversial pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1991, geolog menemukan lokasi tumbukan: kawah berdiameter 180 km di sepanjang Semenanjung Yukatan, Meksiko. Mereka menamakannya Chicxulub, seperti nama kota terdekat.

Kawah itu tersembunyi di bawah tanah. Bagian utaranya berada di lepas pantai, terkubur di bawah 600m sedimen lautan.

Pada April 2016, ilmuwan memulai pengeboran sedalam dua kilometer di bagian kawah di lepas pantai, untuk mengambil sampel sedalam 3 meter. Mereka akan menganalisis sampel tersebut untuk melihat perubahan pada jenis batuan, mencari fosil dan bahkan DNA yang terperangkap di dalam bebatuan.

“Kami akan melihat apa yang kemungkinan besar merupakan samudera yang steril di ground zero tak lama setelah tumbukan, lalu kami dapat melihat bagaimana kehidupan muncul kembali,” kata seorang peneliti yang terlibat dalam pengeboran, Sean Garrick dari Institut Geofisika University of Texas.

Beberapa hal dapat diperkirakan tanpa mengebor ke dalam kawah.


Berdasarkan ukuran kawah, ilmuwan telah menghitung seberapa besar energi yang dihasilkan dari tumbukan asteroid.

Dengan informasi ini, Durda bersama David Kring dari Lunar and Planetary Institute di Texas, membuat simulasi kejadian detail tabrakan asteorid – dan memprediksi apa saja kejadian yang dipicu oleh tabrakan itu. Para peneliti kemudian menguji skenario tersebut dengan bukti fosil untuk menentukan apakah yang diprediksikan benar-benar terjadi.

“Semua perhitungan itu dilakukan dengan cermat,” kata paleobotanis Kirk Johnson, direktur Museum Smithsonian. “Kami dapat menyusun skenario detail, mulai dari momen tabrakan hingga menit, jam, hari, bulan, dan tahun-tahun setelah kejadian itu.”

Berbagai penelitian mengungkap suatu bencana besar.


Asteroid melesat di udara dengan kecepatan lebih dari 40 kali kecepatan suara. Ketika menghantam bumi, batu dari luar angkasa itu menghasilkan ledakan yang setara dengan 100 triliun ton TNT, kira-kira tujuh miliar kali lebih kuat dari bom Hiroshima.

Tumbukan dengan permukaan bumi mengirimkan gelombang kejut ke sekitarnya.

Gelombang tsunami setinggi 100 hingga 300 meter menyapu Teluk Meksiko. Gempa berkekuatan 10 skala Richter menghancurkan garis pantai dan hempasan udara meratakan hutan dalam radius ribuan kilometer. Setelah itu, berton-ton batuan berjatuhan dari langit dan mengubur kehidupan yang tersisa.

“Meteor itu bagaikan peluru berdiameter 10km,” kata Johnson.

Namun dampak langsung ini bukan satu-satunya penyebab kepunahan massal.

Ketika asteroid menghantam bumi, ia menguapkan bongkahan besar kerak bumi. Puing-puingnya terlempar bagaikan bulu-bulu api ke atas lokasi tubrukan, hingga ke langit.

“Bagaikan bola plasma yang menembus atmosfer sampai ruang angkasa,” kata Durda.

Puing-puing itu menyebar ke timur dan barat hingga menyelimuti seluruh permukaan bumi. Kemudian, karena masih terikat gravitasi, mereka jatuh kembali ke atmosfer bagaikan hujan.

Ketika mendingin, mereka terpadatkan menjadi triliunan butiran gelas berukuran seperempat milimeter. Butiran-butiran tersebut melesat ke permukaan bumi dengan kecepatan setara kecepatan pesawat ruang angkasa, membuat atmosfer begitu panas sehingga, di sejumlah tempat, tumbuh-tumbuhan darat terbakar.

“Pijar panas dari puing-puing yang kembali memasuki atmosfer menjadikan planet bumi seperti oven raksasa,” kata Johnson.

Jelaga dari api, bercampur debu dari tubrukan, menghalangi cahaya matahari dan mengantarkan bumi ke musim dingin yang gelap berkepanjangan.

Selama beberapa bulan setelahnya, partikel-partikel kecil turun bagai gerimis ke tanah, menutupi seluruh permukaan planet dengan lapisan debu asteroid. Sekarang paleontolog dapat menemukan lapisan ini terawetkan bersama fosil. Ia menandakan “Batas Cretaceous-Paleogen (K-Pg)”, titik balik dalam sejarah planet kita.

Pada tahun 2015, Johnson menelusuri lapisan Batas K-Pg sejauh 177km di North Dakota, mencari fosil di sepanjang perjalanan. “Jika Anda melihat ke bawah lapisan ini, ada dinosaurus di mana-mana,” ujarnya. “Tapi jika Anda melihat ke atas, tidak ada dinosaurus.”

Di Amerika Utara, sebelum tubrukan Chicxulub, bukti fosil menggambarkan hutan kanopi yang rimbun, terjalin dengan rawa dan sungai; serta dipenuhi paku-pakuan, tumbuhan air, dan semak belukar.

Iklim di masa itu lebih hangat dari sekarang. Tidak es yang menutupi kutub, dan dinosaurus memenuhi daratan dari Alaska sampai Antartika.

“Alam penuh dengan kehidupan beraneka ragam seperti yang kita punya sekarang,” kata Durda. “Namun setelah tubrukan, ia jadi seperti di bulan. Gersang dan tandus.”

Saintis memperkirakan dampak asteroid dengan mempelajari lapisan K-Pg, yang telah mereka temukan di 300 lokasi di seluruh dunia.

“Tak seperti proses geologi lainnya, dampak asteroid terasa dalam sekejap,” kata Johnson. “Setelah kita memastikan bahwa lapisan itu ialah debris dari kawah tubrukan asteroid, kita dapat melakukan perbandingan atas dan bawah, sebelum dan sesudah.”

Di dekat lokasi tubrukan, hewan dan tumbuhan mati akibat temperatur sangat tinggi, hempasan angin kuat, gempa, tsunami, atau batu-batuan yang jatuh dari langit. Di tempat yang jauh, banyak spesies menderita karena dampak berantai seperti kekurangan cahaya matahari.

Di habitat yang tidak hancur oleh api, panas ekstrem membunuh makanan bagi hewan dan hujan asam mencemari sumber air. Lebih parah lagi, puing-puing di udara membuat bumi gelap, menghentikan fotosintetis dan menghancurkan rantai makanan.

“Di darat, semua terbakar. Dan semua hewan besar kelaparan sampai mati,” kata Johnson.

Bukti fosil mengungkap bahwa tidak ada hewan yang lebih besar dari rakun berhasil bertahan hidup. Spesies bertubuh kecil punya peluang lebih besar untuk bertahan karena jumlah mereka lebih banyak, makan lebih sedikit, dan beranak-pinak lebih cepat.

Ekosistem air tawar tampaknya lebih berhasil dibandingkan ekosistem darat. Namun di lautan, seluruh rantai makanan hancur.

Dampak musim dingin lebih besar di belahan bumi yang memasuki musim semi. “Jika Anda menghentikan fotosintetis selama musim tumbuh, itu akan jadi masalah,” kata Johnson.

Bukti fosil mengindikasikan bahwa Amerika Utara dan Eropa bertahan lebih baik setelah bumi terbakar. Dari situ diperkirakan bahwa belahan bumi utara baru mulai memasuki musim dingin ketika asteroid datang.

Namun bahkan di area yang terkena dampak paling buruk, kehidupan perlahan kembali muncul tak lama kemudian.

“Ada dua sisi dalam persoalan kepunahan massal ini,” kata Kring. “Satu sisi adalah apa yang memusnahkan kehidupan? Sisi lainnya: hewan atau tumbuhan apa yang punya kemampuan bertahan hidup dan akhirnya memulihkan diri?”

Pemulihan itu butuh waktu panjang: ratusan atau ribuan tahun. Saintis memperkirakan bahwa, di lautan, butuh tiga juta tahun hingga aliran materi organik kembali normal.

Seperti halnya setelah kebakaran hutan di masa sekarang, tumbuhan paku-pakuan memenuhi lanskap yang hangus. Di ekosistem lainnya, alga dan lumut mendominasi.

Di wilayah yang lolos dari kehancuran terparah, beberapa spesies bertahan dan berkembang biak. Di laut, hiu, buaya, dan beberapa jenis ikan berhasil melalui situasi terburuk.

Punahnya dinosaurus berarti satu relung ekologi baru terbuka. “Karena spesies mamalia mengisi relung ekologis yang kosong inilah Bumi memiliki keanekaragaman mamalia yang kita lihat sekarang,” jelas Durda.

Ketika para ilmuwan memulai pengeboran pada musim semi ini, mereka akan berusaha mendapatkan gambaran lebih jelas tentang bagaimana kawah terbentuk. Informasi itu akan memperjelas perkiraaan tentang dampak tubrukan terhadap iklim.

“Kami akan melakukan analisis yang lebih akurat akan isi kawah ini,” kata Johnson. “Kami akan belajar banyak tentang distribusi energi, dan pada dasarnya, apa yang terjadi pada bumi jika dihantam sesuatu sebesar itu.”

Selain itu, mereka akan memeriksa mineral dan retakan di bebatuan untuk melihat apa yang pernah hidup di sana. Ini dapat membantu kita memahami bagaimana kehidupan kembali muncul.

“Dengan melihat kehidupan kembali muncul, Anda dapat menjawab beberapa pertanyaan,” kata Gulick. “Siapa yang pertama kali muncul? Apakah spesialis? Atau generalis? Keanekaragaman evolusi apa yang terjadi dan seberapa cepat?”

Meskipun banyak spesies dan individu musnah, bentuk kehidupan lain justru berkembang pesat dengan ketiadaan mereka. Inilah dualisme bencana dan kesempatan yang terjadi berulang-ulang sepanjang sejarah planet Bumi.

Lebih tepatnya, jika asteroid itu tidak jatuh ke Bumi 66 juta tahun lalu, jalannya evolusi mungkin akan sangat berbeda – dan tidak akan menghasilkan manusia. “Adakalanya, saat sedang puitis, saya membayangkan bahwa kawah Chicxulub ialah ujian besar bagi evolusi manusia,” kata Kring.

Dia juga berpendapat kalau tubrukan besar mungkin membantu kehidupan bermula.

Ketika asteroid menghantam bumi, panas yang dahsyat memicu aktivitas hidrotermal di dalam kawah Chicxulub yang diperkirakan berlangsung selama 100.00 tahun.

Kondisi itu memungkinkan organisme termofilik dan hipertermofilik – mahluk bersel satu yang berkembang dengan baik dalam lingkungan yang panas dan kaya materi organik – hidup dalam kawah. Proyek pengeboran akan menguji ide ini.

Sejak kelahirannya pada sekitar 3,9 miliar tahun lalu, Bumi dibombardir asteroid dan puing-puing luar angkasa lainnya. Pada tahun 2000, Kring mengajukan teori bahwa tubrukan tersebut menciptakan sistem hidrotermal di bawah tanah, seperti yang mungkin terjadi di Chicxulub.

Kondisi panas, kaya materi organik, dan basah ini dapat mendukung bentuk kehidupan pertama. Jika itu benar, maka bakteri termofilik yang tahan panas adalah bentuk kehidupan pertama di Bumi.

Kamis, 03 September 2020

Sejarah Manusia Purba, dan Penyebarannya di Dunia

 


    Sebagian dari kita mungkin pernah bertanya-tanya, bagaimana ya kehidupan di Bumi ini puluhan ribu hingga jutaan tahun yang lalu? Apakah sudah ada makhluk hidup di sini? Jika ada, apakah bentuknya sama dengan hewan-hewan yang sekarang masih ada? Kalau manusia, apakah sama dengan kita? Sejak kapan mereka ada? Dan sebagainya. Satu hal yang pasti, ilmuwan yang mengakui teori evolusi memercayai bahwa terdapat manusia purba yang menjadi nenek moyang umat manusia.

    Hal ini mengacu pada fosil tulang-belulang yang telah ditemukan, yang menunjukkan bahwa bentuk tubuh mereka menyerupai manusia, namun bungkuk. Nah, pertanyaannya sekarang, bagaimana mereka bisa muncul di Bumi?

Persebaran Manusia Purba

Tahun 60.000 hingga 50.000 SM, diketahui bahwa manusia purba melakukan pergerakan dari Afrika Tengah ke Afrika Selatan. Sebelum akhirnya, di tahun 50.000 hingga 45.000 SM, mulai menyebar luas lagi ke Arab, India, dan Indonesia. Dari sini, mereka lalu mencapai Australia,  Jepang, Cina, Alaska, hingga Amerika Utara.

Zaman Es, yang terjadi sekitar tahun 45.000 hingga 40.000 SM sedikit membuat penyebaran manusia-manusia ini tersendat. Saat itu, penyebaran hanya terjadi di kawasan Jazirah Arab. Baru di tahun 40.000 hingga 35.000 SM, pergerakan kembali terjadi. Kala itu tujuannya adalah Iran, Afganistan, dan Pakistan. Sebelum akhirnya menuju Pegunungan Himalaya dan sampai ke Myanmar. Dari Himalaya pula, yakni sekitar tahun 35.000 hingga 30.000 SM, manusia purba menyebar ke Kazakhstan dan Mongolia.

Dari Kazakhstan, manusia yang disebut Caucasoid ini lantas bergerak ke Eropa dan Semenanjung Portugal. Diikuti oleh pergerakan kembali dari Afrika Tengah ke Afrika Selatan di tahun 25.000 hingga 20.000 SM.

Tahun 20.000 hingga 10.000 SM, manusia jaman baheula ini telah menduduki seluruh benua Afrika kecuali wilayah utara dan barat Gurun Sahara. Sementara itu, yang berasal dari Asia Tengah bergerak ke Alaska.

Tahun 10.000 SM, persebaran ke berbagai wilayah kembali terjadi. Mereka yang berada di Alaska berpindah ke Amerika dan dipercaya sebagai nenek moyang suku Maya Tengah dan Selatan. Mereka yang berasal dari Arab mencapai Afrika Utara dan Mediterania, dan dipercaya sebagai asal bangsa Yunani Kuno. Mereka yang ada di Eropa Timur juga menyebar, pergi ke Kaspia. Sementara itu, yang berada di Himalaya pergi ke Cina, Rusia, dan Skandinavia. Mereka yang berada di Vietnam juga bergerak ke Cina Timur dan yang berasal dari Thailand menyebar ke Indonesia dan Pasifik.

Jenis-Jenis Manusia Purba

Manusia purba yang menyebar ke penjuru dunia rupanya memiliki bentuk yang berbeda sehingga ilmuwan mengklasifikasi mereka. Mereka yang ditemukan di Eropa di antaranya adalah Homo Neandherthalensis, Paranthropus Robustus, dan Paranthropus Transvaalensis (Homo Cro Magnon).

Homo Neandherthalensis ditemukan oleh Rudolf Virchow di Lembah Neander, Dusseldorf, Jerman Barat pada tahun 1856. Sementara itu, Paranthropus Robustus dan Homo Cro Magnon ditemukan di Gua Spy di Belgia dan di Perancis.

Di Afrika, manusia purba terdiri dari beberapa jenis. Salah satunya adalah Homo Africanus yang ditemukan oleh Reymond Dart dan Robert Broom di Pertambangan Taung Botswana pada tahun 1924.

Manusia Purba di Indonesia

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa manusia purba yang pernah ditemukan, diantaranya sebagai berikut.

Jenis-Jenis Manusia Purba

Manusia purba yang menyebar ke penjuru dunia rupanya memiliki bentuk yang berbeda sehingga ilmuwan mengklasifikasi mereka. Mereka yang ditemukan di Eropa di antaranya adalah Homo Neandherthalensis, Paranthropus Robustus, dan Paranthropus Transvaalensis (Homo Cro Magnon).

Homo Neandherthalensis ditemukan oleh Rudolf Virchow di Lembah Neander, Dusseldorf, Jerman Barat pada tahun 1856. Sementara itu, Paranthropus Robustus dan Homo Cro Magnon ditemukan di Gua Spy di Belgia dan di Perancis.

Di Afrika, manusia purba terdiri dari beberapa jenis. Salah satunya adalah Homo Africanus yang ditemukan oleh Reymond Dart dan Robert Broom di Pertambangan Taung Botswana pada tahun 1924.

Manusia Purba di Indonesia

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa manusia purba yang pernah ditemukan, diantaranya sebagai berikut.

  • Meganthropus Paleojavanicu
            Manusia purba ini ditemukan di Sangiran, lembah Sungai Bengawan Solo tahun                     1941.    


  • Pithecanthropus Erectus
            Ditemukan di lembah Sungai Brantas tahun 1936.


  • Pithecanthropus Robustus
            Ditemukan di Desa Trinil, Ngawi, tahun 1890 hingga 1892.
  • Homo Soloensis
            Ditemukan di Bengawan Solo, Ngandong, Sambung Macan, dan Sangiran di tahun                 1931 hingga 1934.
  • Homo Wajakensis
            Ditemukan di Jawa Timur tahun 1889.
  • Homo Mojokertensis
            Ditemukan di Mojokerto tahun 1936.

Cara Hidup Manusia Purba

    Dari awal kemunculannya, manusia purba memiliki cara hidup yang berubah seiring waktu. Cara hidup mereka kemudian dibagi menjadi beberapa masa. Pertama adalah Paleolithik, yaitu ketika manusia purba masih berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Kedua adalah masa Mesolithik, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Ketiga adalah Neolithik ketika mereka mulai bercocok tanam. Terakhir adalah masa Megalithik atau yang disebut juga sebagai masa perundagian dan logam.

 
Copyright © 2014 cerita kehidupan. Designed by OddThemes